Sabtu, 09 April 2016

Mitos Jatiluhur, Eyang Balung Tunggal Berjalan di Atas Air (Jawa Barat)

PURWAKARTA, (PRLM).- Mak Cucum (50) orang yang gemar mengobrol. Sejak saya tiba pukul 17.30 di Waduk Jatiluhur hingga tanggal berganti, ia terus berbicara seolah tanpa spasi. Sedangkan Pak Akim (53), suaminya tertidur kelelahan di atas sofa.
Sepiring telur dadar dan tempe goreng menjadi menu makan malam saya sembari terus menyimak celoteh Mak Cucum.

PERAHU melaju pelan di tengah Waduk Jatiluhur yang berkabut. Jika cuaca cerah, waduk yang airnya berasal dari Sungai Citarum itu menyajikan pemandangan senja luar biasa indah.*  YUSU WIJANARKO/PRLM
Pasangan suami-istri pedagang bakso tersebut berbaik hati mengizinkan saya menginap di warungnya. Keluarga dengan tiga anak dan satu burung beo peliharaannya itu membuka warung bakso di Desa Jatimekar di tepi Waduk Jatiluhur.
Di bagian depan warung, terdapat dua selasar bambu luas yang dijamin membuat siapapun betah berlama lama di sana sepanjang hari tanpa melakukan apapun kecuali menatap danau berkabut di balik rindangnya pohon.
"Awewe (perempuan)" menjadi satu satunya kata yang bisa ditirukan burung beo milik Pak Akim. Terkesan lucu saat diucapkan. Kata itu fasih dan lantang diucapkannya setiap kali melihat ada orang mendekat tak peduli laki-laki atau perempuan.
Penghasilan dengan membuka warung bakso di tepi waduk jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Oleh sebab itu, Pak Akim harus berkeliling jauh ke desa desa lain berjualan bakso memakai sepedamotor yang dimodifikasi untuk mengangkut panci, kompor, dan lain lain. Ia baru pulang selepas isya.
Dari berbagai topik yang dibahas Mak Cucum, satu yang menarik adalah kisah nenek moyangnya yang menjadi leluhur mayoritas masyarakat di sisi timur waduk dekat bendungan.
Eyang Balung Tunggal. Itulah nama leluhurnya yang seiring laju zaman menjadi mitos. Mitos selalu menarik untuk didengar sebab berita bisa benar dan bisa juga salah tetapi mitos akan selalu menjadi mitos. Kepercayaan terhadapnya dibentuk oleh struktur yang lebih kuat dan purba.
Mak Cucum adalah keturunan keempat dari Eyang. Sepanjang waktu, kisahnya ditambah-tambahi, dikurangi, dan terus dimodifikasi sesuai karakteristik mitos. Menurut tradisi penuturan lisan yang didapatnya turun temurun, semasa hidup pada masa kolonial, Eyang Balung Tunggal dikenal punya kemampuan berjalan di atas air.
Pernah suatu ketika, terjadi banjir bandang di Sungai Citarum. Bendungan belum dibangun. Eyang Balung Tunggal yang sedang berada di atas rakit kala itu mengikatkan rakitnya ke batang pohon besar agar tidak terseret banjir. Namun, pohon yang menjadi tambatannya ikut tersapu air bersama rakit hingga jauh ke Karawang. Dengan kekuatan spiritualnya, Eyang menarik kembali rakitnya ke Jatiluhur melawan arus dan mengikatkannya lagi pada pohon yang masih berdiri.
Pohon dan rakit kembali hanyut lalu ditarik kembali. Terus begitu hingga berulang ulang kali. "Piraku kudu ditalikeun kana suku mah? (Apa harus saya ikatkan pada kaki?)" tanyanya retoris.
Kesal karena rakitnya terus hanyut. Ia lantas berdiri menapak derasnya banjir bandang dan mengikatkan rakit pada betis. Ia bertahan hingga akhirnya banjir bandang surut. Orang orang yang menyaksikan dari tepi sungai hanya bisa tertegun kagum.
"Kadang seperti ada yang menggelitik bulu kuduk kalau sedang menceritakan tentang karuhun. Hampura, Karuhun," ujar Mak Cucum dengan lirikan mata ke atas.
Karena kesaktiannya, Eyang sempat beberapa kali diburu tentara Belanda tetapi tidak pernah tertangkap.
Sejak lahir, dikisahkan bahwa Eyang Balung Tunggal tidak mempunyai pusar. Enggan dianggap bukan manusia normal, ia membuat pusar dengan melubangi sendiri perutnya memakai cerutu.
Para keturunannya tidak mengetahui jelas bagaimana dan kapan Eyang meninggal tapi ia dimakamkan di tempat yang kini menjadi Waduk Jatiluhur. Jika musim kemarau tiba dan volume air berkurang drastis, akan tampak sehamparan kecil tanah merah di tengah danau. Di situlah letak makamnya dikelilingi beberapa pusara lain.
Saat bendungan Ir. H. Djuanda dibangun untuk membendung Citarum tahun 1957, makamnya tak sempat dipindahkan dan akhirnya tertutup danau seluas 8.300 ha.
Sementara di Jawa Barat, nama Balung Tunggal sebagai karuhun cukup umum. Sedikitnya ada tiga lokasi yang diyakini merupakan makam sosok bernama Balung Tunggal. Ketiganya yaitu di Gunung Sanggabuana Karawang, Limbangan Garut, dan Sangkanjaya Sumedang.
Cerita Eyang Balung Tunggal di Jatiluhur tidak setenar mitos Mbah Jawer yang dibuang dan tenggelam di sana. Kisah Mbah Jawer lebih familiar bahkan di telinga anak anak kecil Purwakarta saat ini. Konon, Mbah Jawer adalah sosok manusia berjengger yang dibuang orangtuanya di Citarum dan menyebabkan banyaknya kematian saat bendungan dibangun.
Akan tetapi selain bermakna 'tulang', kata 'balung' dalam bahasa Indonesia juga berarti 'jengger'/'jawer'. Maka ada kemungkinan jika Mbah Jawer maupun Eyang Balung Tunggal merujuk pada satu individu yang sama kendati punya kisah berbeda. (Yusuf Wijanarko/A-147)***

sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2015/04/16/323715/mitos-jatiluhur-eyang-balung-tunggal-berjalan-di-atas-air

Tidak ada komentar:

Posting Komentar