TUGAS KELOMPOK
ILMU BUDAYA DASAR
Museum Fatahillah
Disusun Oleh :
Kelompok
Bella Mita Clarita (11515327)
Deka Ayu Dea P. (11515649)
Nabila Handrini Putri (14515882)
Nur Shiyam (15515199)
Suratman Trias R. (16515717)
KELAS 1PA06
FAKULTAS PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI
Mata Kuliah : Ilmu Budaya Dasar
Daftar
Isi
Perjalanan
Menuju Fatahillah.............................................................. 1
Museum
Fatahillah.............................................................................. 4
Sejarah
Gedung.................................................................................... 5
Sejarah
Kota Jakarta........................................................................... 8
Penjara
Bawah Tanah........................................................................ 10
Suasana
di Dalam Museum Fatahillah............................................... 12
Suasana
di Halaman Museum Fatahillah........................................... 13
Perjalanan
Pulang dari Museum Fatahillah........................................ 14
Lampiran........................................................................................... 15
Perjalanan Menuju Fatahillah
Jumat, 13 November 2015
kelompok kami beranggotakan lima orang,
yaitu Nabila, Bella, Nursyiham, Deka, dan Suratman. Kami akan
melakukan Observasi di Museum Fathahilah Kota Tua, Jakarta. Sebelum kami
pergi untuk melakukan Observasi,
kami
mengikuti kelas tambahan terlebih dahulu di kampus, karena kami ada
jadwal tambahan dari jam 09.30- 11.30. Setelah sampai kampus, ternyata dosennya tidak hadir. Sekitar
jam 10.30 kami langsung bergegas untuk
ke Fatahillah Kota Tua,
Jakarta
Sesampainya
kami di gerbang Kampus E, ternyata ada kelompok
lain dari kelas kami yang akan berkunjung ke Kota Tua untuk melakukan observasi juga. Akhirnya kita
memutuskan untuk bergabung
agar perjalanan tidak terasa jauh karena
banyak teman. Tiba di depan
jalan raya untuk menunggu angkot 112, akhirnya angkot pun datang. Kita semua
naik angkot untuk melakukan perjalan ke Kober menuju stasiun UI.
Setiba kami di stasiun UI, ternyata salah satu
kelompok kami tidak lengkap. Ternyata Suratman dan Deka belum datang. Kami pun
menunggu kedatangan Suratman dan Deka.
Sekitar 20 menit kami menunggu, kami memasang muka
lelah dan lesu. Dan akhirnya Suratman dan Deka pun datang. Lalu kami langsung
bergegas untuk masuk ke stasiun UI.
Sampai di dalam stasiun UI, kami mendapat kabar bahwa kereta menuju Jakarta Kota keberadaannya masih di Stasiun Cilebut, kalau dihitung dari Stasiun Cilebut ke stasiun UI harus melewati 6 stasiun lagi, kira-kira 45 menit kami harus menunggu kedatangan kereta. Berikut adalah gambar yang kami ambil di Stasiun UI ketika kami menunggu kereta jurusan Jakarta Kota.
Sampai di dalam stasiun UI, kami mendapat kabar bahwa kereta menuju Jakarta Kota keberadaannya masih di Stasiun Cilebut, kalau dihitung dari Stasiun Cilebut ke stasiun UI harus melewati 6 stasiun lagi, kira-kira 45 menit kami harus menunggu kedatangan kereta. Berikut adalah gambar yang kami ambil di Stasiun UI ketika kami menunggu kereta jurusan Jakarta Kota.
1
Sambil
menunggu kedatangan kereta menuju Jakarta kota, kami
mengisi waktu dengan mengobrol,
mengemil, bercanda-tawa, dan berfoto bersama. Sampai
rasa jenuh dan bosan itu datang. Ada yang mengeluh karena kelaparan, kehausan, mengantuk, pusing, kesemutan karena duduk terlalu lama, dan lain-lain. Tapi semua itu kami
lawan demi menyelesaikan tugas dengan
baik. Menit demi menit telah kami lewati, hingga akhirnya kereta jurusan
Jakarta kota yang akan kami naiki pun datang. Wajah lesu, bosan, capek, lelah, lapar, dan haus yang sempat kami pasang akhirnya
berubah menjadi wajah-wajah bahagia dan lega.
Ketika
kereta tersebut tiba di hadapan
kami, dan pintu kereta pun terbuka, ternyata keadaan di kereta itu
sangat padat, panas, dan berbau tak sedap. Tapi, mau tak mau kami harus menaiki
kereta tersebut demi tugas yang telah diberi. Jangankan bisa duduk, sudah bisa masuk di dalam kereta
juga Alhamdulillah banget. Akhirnya kami semua masuk ke dalam kereta, meski tak bisa dapat duduk di
kereta tersebut.
Akhirnya
kami bisa memotret gambar untuk laporan Observasi, karena tadi keadaan di dalam kereta
tak memungkinkan untuk kami bisa memotret gambar. Jadi kami menunggu keadaan
kereta sepi. Berikut adalah foto pemandangan di luar kereta. Kami mengambil
gambar tersebut dari dalam kereta

Stasiun
demi stasiun telah kami lewati. Akhirnya semakin banyak stasiun yang kami
lewati. Semakin banyak juga kesempatan kami
untuk bisa duduk. Kaki kami terasa sangat pegal karena terlalu lama berdiri, badan kami terasa remuk
karena mengatur keseimbangan, dan
tenggorokan kami terasa kering. Muka lelah kami pun kembali kami pasang. Keringat yang mengucur, tenggorokan yang kering, dan udara yang panas kini yang kami
rasakan. Dan akhirnya kami bisa duduk,
walaupun
tidak semua yang duduk. Tapi kami bersyukur karena keadaan sudah membaik.
Berikut muka lelah kami yang berhasil di ambil oleh rekan kami yaitu Nursyiham.
Akhirnya
kami tiba
di Stasiun Jakarta Kota. Ketika akan turun kereta, kami berdiri di depan pintu kereta.
Setelah pintu terbuka, kami
diserbu oleh penumpang kereta yang hendak naik. Perasaan lega karena sudah
sampai tujuan pun muncul, kami
mengantri untuk keluar dari stasiun. Sebelum kami bergegas museum Fatahillah di Kota Tua, kami berkunjung ke
salah satu mini market untuk membeli minuman segar demi melegakan dahaga kami
yang kering akibat kehausan di kereta tadi.
3
Museum Fatahillah
Museum
Fatahillah yang juga dikenal sebagai Museum Sejarah
Jakarta atau Museum Batavia adalah sebuah museum yang
terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 1, Jakarta Barat dengan luas
lebih dari 1.300 meter persegi.
Gedung
ini dahulu adalah sebuah Balai Kota Batavia (bahasa Belanda: Stadhuis van
Batavia) yang dibangun pada tahun 1707-1710 atas perintah Gubernur
Jendral Johan van Hoorn. Bangunan itu menyerupai Istana
Dam di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di
bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor,
ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara.
Pada
tanggal 30 Maret 1974, gedung ini kemudian diresmikan sebagai Museum
Fatahillah. Arsitektur bangunannya bergaya abad ke-17 bergaya neoklasik dengan
tiga lantai dengan cat kuning tanah, kusen pintu dan jendela dari kayu jati
berwarna hijau tua. Bagian atap utama memiliki penunjuk arah mata angin.
Museum
ini memiliki luas lebih dari 1.300 meter persegi. Pekarangan dengan susunan
konblok, dan sebuah kolam dihiasi beberapa pohon tua.
4
Sejarah
Gedung
Gedung
Museum Sejarah Jakarta mulai dibangun pada tahun 1620 oleh Gubernur
Jendral Jan Pieterszoon Coen sebagai gedung balai kota kedua pada
tahun 1626 (balai kota pertama dibangun pada tahun 1620 di dekat Kalibesar
Timur). Menurut catatan sejarah, gedung ini hanya bertingkat satu dan
pembangunan tingkat kedua dilakukan kemudian. Tahun 1648 kondisi gedung sangat
buruk. Tanah Jakarta yang sangat labil dan beratnya gedung menyebabkan bangunan
ini turun dari permukaan tanah. Solusi mudah yang dilakukan oleh pemerintah
Belanda adalah tidak mengubah pondasi yang sudah ada, tetapi menaikkan lantai
sekitar 2 kaki (56 cm). Menurut suatu laporan 5 buah sel yang berada di bawah
gedung dibangun pada tahun 1649. Tahun 1665 gedung utama diperlebar dengan
menambah masing-masing satu ruangan di bagian Barat dan Timur. Setelah itu
beberapa perbaikan dan perubahan di gedung stadhuis dan penjara-penjaranya
terus dilakukan hingga menjadi bentuk yang kita lihat sekarang ini.
5
Selain
digunakan sebagai stadhuis, gedung ini juga digunakan sebagai ‘’Raad van
Justitie” (dewan pengadilan). Pada tahun 1925-1942 setelah aktivitas Balai Kota
dipindahkan ke Koningsplein Zuid (Sekarang Jl. Medan Merdeka No. 8-9,
Jakarta Pusat), gedung ini dimanfaatkan sebagai Kantor Pemerintah Provinsi
Jawa Barat dan pada tahun 1942-1945 dipakai untuk kantor pengumpulan
logistik Dai Nippon. Tahun 1952 gedung ini menjadi markas Komando Militer Kota
(KMK) I, lalu diubah kembali menjadi KODIM 0503 Jakarta Barat. Tahun 1968,
gedung ini diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta, lalu diresmikan menjadi Museum
Sejarah Jakarta pada tanggal 30 Maret 1974.
6
Seperti
umumnya di Eropa, gedung balaikota dilengkapi dengan lapangan yang dinamakan
“stadhuisplein”. Menurut sebuah lukisan uang dibuat oleh pegawai VOC “Johannes
Rach” yang berasal dari “Denmark”, di tengah lapangan tersebut terdapat sebuah
air mancur yang merupakan satu-satunya sumber air bagi masyarakat setempat. Air
itu berasal dari Pancoran Glodok yang dihubungkan dengan pipa
menujustadhuiplein. Pada tahun 1972, diadakan penggalian terhadap lapangan
tersebut dan ditemukan pondasi air mancur lengkap dengan pipa-pipanya. Maka
dengan bukti sejarah itu dapat dibangun kembali sesuai gambar Johannes Rach,
lalu terciptalah air mancur di tengah Taman Fatahillah. Pada tahun 1973 Pemda
DKI Jakarta memfungsikan kembali taman tersebut dengan memberi nama baru yaitu
“Taman Fatahillah” untuk mengenang panglima Fatahillah pendiri kota Jakarta.
7
Sejarah
Kota Jakarta
Berdasarkan
penggalian arkeologi, terdapat bukti bahwa pemukiman pertama di Jakarta
terdapat di tepi sungai Ciliwung. Pemukiman ini di duga berasal dari 2500
SM (Masa Neolothicum). Bukti tertulis pertama yang diketemukan
adalah prasasti Tugu yang dikeluarkan oleh Raja Tarumanegara pada
abad ke-5. Prasasti merupakan bukti adanya kegiatan keagamaan pada masa itu.
Pada masa berikutnya sekitar abad ke-12 daerah ini berada di bawah kekuasaan
kerajaan Sunda dengan pelabuhannya yang terkenal pelabuhan Sunda Kelapa.
Pada
masa inilah diadakan perjanjian perdagangan antara pihak Portugis dengan Raja
Sunda. Pada abad ke-17 perdagangan dengan pihak-pihak asing makin meluas, Pelabuhan
Sunda Kelapa berubah menjadi Jayakarta (1527) dan kemudian menjadi Batavia
(1619). Tahun 1942 bangsa Jepang merebut kekuasaan dari tangan Belanda dan
berkuasa di Indonesia sampai tahun 1945.
8
secara
grafis dengan menggunakan foto-foto, gambar-gambar dan sketsa, peta dan label
penjelasan agar mudah dipahami dalam kaitannya dengan faktor sejarah dan latar
belakang sejarah Jakarta.
9
Penjara
Bawah Tanah
Penjara bawah tanah di abad
18 ini di Kota Jakarta yang dulunya dikenal dengan Batavia kini menjadi tempat
sejarah di Museum Fatahillah. Gedung ini
dulu adalah sebuah Balai Kota yang dibangun pada tahun 1707-1710 atas perintah
Gubernur Jendral Johan van Hoorn. Bangunan itu menyerupai Istana Dam di
Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan
barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan,
dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara.
Penjara
yang lembab dan gelap gulita ini hanya memiliki satu jendela lengkap dengan
tralis dan satu pintu masuk. Sehingga membuat pengunjung diharuskan untuk
menundukkan kepala agar tidak terbentur dengan langit-langit penjara. Bau tidak
sedap pun menyeruak dari dalam sel isolasi tersebut. Di dalam terdapat banyak
bola-bola besi yang konon katanya buat dikaitkan ke kaki tahanan agar mereka tidak
bisa kabur. Betapa mengerikannya penjara ini.ruang yang tingginya hanya dua
setengah meter diisi orang dengan puluhan atau berjubelan. Berikut adalah
foto-foto yang berhasil diambil oleh rekan kami yang turun ke dalam penjara
bawah tanah, yaitu Arman dan Nurshiyam.
10
Menurut
sejarawan Belanda Hans Bonke, sampai 1763 memungkinkan untuk menahan seorang
seumur hidup karena berhutang. Peraturan yang dibuat pemerintah 1740 yang
melarang orang Cina berkeliaran menyebabkan jumlah tahanan penjara bertambah
500 orang. Mereka ditempatkan di delapan penjara bawah tanah yang sampai
sekarang bisa disaksikan di museum Fatahillah
Jakarta Barat. Dalam balaikota, terdapat
satu tempat kamar penyiksaan yang didalamnya terdapat palu dan skrup untuk
menyiksa tahanan. Seorang pahlawan
seperti Untung Suropati dan Pangeran Diponegoro pernah ditahan di penjara bawah
tanah ini.
Penjara
bawah tanah wanita pun tak kalah mengenaskan, bahkan sering disebut sebagai
lorong gelap gulita, karena hanya memiliki dua jendela yang hanya dibuka pada
siang hari. Menurut keterangan staff museum Fatahillah, ukuran
sel hanya 6x9 meter dengan ketinggian satu meter. Masih terngiang suasana dan
kondisi di dalam penjara bawah tanah yang lembab, bau yang sangat
menyengat, dengan kondisi tua dan kumuh. Tahanan yang ada
di sel ini merupakan pemberontak VOC, salah satunya pejuang nusantara asal
Aceh, Cut Nyak Dien. Penjara ini diperuntukan bagi para
pemberontak yang tengah menunggu hukuman gantung dan pancung. Mereka dieksekusi
mati di halaman depan gedung Museum Sejarah.
11
Suasana di Dalam Museum
Fatahillah
Meskipun Museum Fatahillah tergolong
bangunan tua, arsitektur dan kebersihannya tetap terjaga. Gedungnya sangat luas
dan tak banyak orang yang berkunjung, membuat kami dapat dengan mudah istirahat
dan duduk-duduk di tengah museum jika merasa lelah, akibat perjalanan yang kami
tempuh sangatlah jauh. Seluruh barang-barang dalam museum ini tertata dengan
rapi dan tampak ter
12
Suasana
di Halaman Museum Fatahillah
Setelah
selesai mengelilingi museum, kami pun bergegas untuk keluar dari museum. Di
pintu keluar, sudah ada pos tempat pengembalian sandal yang dipinjamkan untuk
berkeliling museum. Setelah mengembalikan sandal dan istirahat sejenak, kami
pun berjalan menuju halaman depan museum. Cahaya matahari saat itu sangat
terik, membuat kami harus menyipit jika melihat ke sekeliling. Tak hanya itu,
hawa siang itu pun sangat panas, membuat kami ingin segera pulang. Tak jauh
dari pintu museum, kami melihat banyak orang-orang yang berdandan menyerupai
pahlawan, nenek sihir, dan lain-lain. Ada juga yang dapat melayang di udara,
layaknya sirkus. Kami sangat tertarik pada nenek sihir yang berada tak jauh
dari kami. Di tengah teriknya matahari, nenek sihir tersebut tetap bersemangat
berakting layaknya nenek sihir dan tiba-tiba ia melambai-lambai ke arah kami
tanda mengajak kami untuk dating ke sana. Awalnya Bella dan Deka takut. Mereka
menolak ajakan Nurshiyam, Arman dan Nabila untuk ke sana. Namun akhirnya mereka
berdua pun mau. Kami berjalan menghampiri nenek sihir tersebut. Kostum dan
dandanannya sangat seram, namun orang itu berkata bahwa ia tidak menakutkan dan
menenangkan kami agar tidak takut. Di depannya terdapat sebuah toples berukuran
sedang untuk tempat menampung uang dan ada pula aksesori untuk berfoto, seperti
topi dan mahkota yang terbuat dari rangkaian bunga. Inilah hasil foto kami
bersama para tokoh-tokoh unik di Kota Tua.
13
Perjalanan
Pulang dari Museum Fatahillah
Setelah puas berkeliling dan
mengobservasi Museum Fatahillah, kami pun rehat sejenak sambil makan siang di
suatu tempat wisata kuliner di sisi Fatahillah. Kebetulan saat itu Arman dan
Deka tidak ikut makan siang bersama kami karena mereka memilih untuk berfoto-foto
di sekitar museum. Di sana kami memesan soto ayam. Harga makanan di sana cukup
beragam, mulai dari Rp10.000 hingga Rp30.000. Di sana kami berkumpul kembali
bersama kelompok Museum Wayang untuk makan bersama dan kemudian pulang bersama.
Di tengah-tengah acara makan siang kami, tak disangka ada barongsai berlari
melewati kami dengan lincah. Kami pun terkejut dan tertawa. Kami mengira ini
adalah pertunjukkan yang disuguhkan oleh Kota Tua, namun ternyata barongsai itu
adalah seorang pengamen. Kami menemui banyak macam pengamen dengan keunikannya
masing-masing. Ada pula seorang pengamen yang memang memainkan lagu dengan
gitar dan harmonikanya sesuai dengan lagu permintaan kami. Wah, rasanya sudah
seperti di kafe.
Setelah perut
kami terisi penuh, kami melanjutkan perjalanan kami, yaitu pulang ke rumah.
Pada sekitar pukul 15.30 kami pun kembali ke stasiun dan memesan tiket pulang.
Tak lama setelah mendapatkan tiket, kereta jurusan Bogor pun tiba di stasiun.
Kami pun bergegas untuk naik. Kami merasa lega, karena saat itu kereta masih
sepi, sehingga kami dapat duduk bersama. Suasana saat itu mulai mendung, dan
kami cemas jika nanti setiba di rumah turun hujan. Suhu AC kereta saat itu
sangat dingin, membuat kami mengantuk dan tanpa disadari, satu per satu dari
kami pun tertidur lelap. Setelah itu kami pulang ke rumah masing-masing.
14
Lampiran
![]() |
|
Lampiran 1.
Kelompok
|
![]() |
|
Lampiran 2.
Nur Shiyam bersama Deka
|
![]() |
|
Lampiran 3.
Suasana Istirahat
|
15
![]() |
|
Lampiran 4.
Tangga turun museum
|
![]() |
|
Lampiran 5.
Peralatan masak zaman dahulu
|
![]() |
|
Lampiran 6.
Miniatur masjid zaman dahulu
16
|








































