Kamis, 26 November 2015

Museum Fathahilah

TUGAS KELOMPOK
ILMU BUDAYA DASAR
Museum Fatahillah

Disusun Oleh :
Kelompok
Bella Mita Clarita (11515327)
Deka Ayu Dea P. (11515649)
Nabila Handrini Putri (14515882)
Nur Shiyam (15515199)
Suratman Trias R. (16515717)


KELAS 1PA06
FAKULTAS PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI
Mata Kuliah : Ilmu Budaya Dasar



Daftar Isi
Perjalanan Menuju Fatahillah.............................................................. 1
Museum Fatahillah.............................................................................. 4
Sejarah Gedung.................................................................................... 5
Sejarah Kota Jakarta........................................................................... 8
Penjara Bawah Tanah........................................................................ 10
Suasana di Dalam Museum Fatahillah............................................... 12
Suasana di Halaman Museum Fatahillah........................................... 13
Perjalanan Pulang dari Museum Fatahillah........................................ 14
Lampiran........................................................................................... 15




Perjalanan Menuju Fatahillah
Jumat, 13 November 2015 kelompok kami beranggotakan lima orang, yaitu Nabila, Bella, Nursyiham, Deka, dan Suratman. Kami akan melakukan Observasi di Museum Fathahilah Kota Tua, Jakarta. Sebelum kami pergi untuk melakukan Observasi, kami mengikuti kelas tambahan terlebih dahulu di kampus, karena kami ada jadwal tambahan dari jam 09.30- 11.30. Setelah sampai kampus, ternyata dosennya tidak hadir. Sekitar jam 10.30  kami langsung bergegas untuk ke Fatahillah Kota Tua, Jakarta
Sesampainya kami di gerbang Kampus E, ternyata ada kelompok lain dari kelas kami yang akan berkunjung ke Kota Tua untuk melakukan observasi juga. Akhirnya kita memutuskan untuk bergabung agar perjalanan tidak terasa jauh  karena banyak teman. Tiba di depan jalan raya untuk menunggu angkot 112, akhirnya angkot pun datang. Kita semua naik angkot untuk melakukan perjalan ke Kober menuju stasiun UI.
Setiba kami di stasiun UI, ternyata salah satu kelompok kami tidak lengkap. Ternyata Suratman dan Deka belum datang. Kami pun menunggu kedatangan Suratman dan Deka. Sekitar 20 menit kami menunggu, kami memasang muka lelah dan lesu. Dan akhirnya Suratman dan Deka pun datang. Lalu kami langsung bergegas untuk masuk ke stasiun UI. 
Sampai di dalam stasiun UI, kami mendapat kabar bahwa kereta menuju Jakarta Kota keberadaannya masih di Stasiun Cilebut, kalau dihitung dari Stasiun Cilebut ke stasiun UI harus melewati  6 stasiun lagi, kira-kira 45 menit kami harus menunggu kedatangan kereta. Berikut adalah gambar yang kami ambil di Stasiun UI ketika kami menunggu kereta jurusan Jakarta Kota.





1


Sambil menunggu kedatangan kereta menuju Jakarta kota, kami mengisi waktu dengan mengobrol, mengemil, bercanda-tawa, dan berfoto bersama. Sampai rasa jenuh dan bosan itu datang. Ada yang mengeluh karena kelaparan, kehausan, mengantuk, pusing, kesemutan karena duduk terlalu lama, dan lain-lain. Tapi semua itu kami lawan demi  menyelesaikan tugas dengan baik. Menit demi menit telah kami lewati, hingga akhirnya kereta jurusan Jakarta kota yang akan kami naiki pun datang. Wajah lesu, bosan, capek, lelah, lapar, dan haus yang sempat kami pasang akhirnya berubah menjadi wajah-wajah bahagia dan lega.
Ketika kereta tersebut tiba di hadapan kami, dan pintu kereta pun terbuka, ternyata keadaan di kereta itu sangat padat, panas, dan berbau tak sedap. Tapi, mau tak mau kami harus menaiki kereta tersebut demi tugas yang telah diberi. Jangankan bisa duduk, sudah bisa masuk di dalam kereta juga Alhamdulillah banget. Akhirnya kami semua masuk ke dalam kereta, meski tak bisa dapat duduk di kereta tersebut.
Akhirnya kami bisa memotret gambar untuk laporan Observasi, karena tadi keadaan di dalam kereta tak memungkinkan untuk kami bisa memotret gambar. Jadi kami menunggu keadaan kereta sepi. Berikut adalah foto pemandangan di luar kereta. Kami mengambil gambar tersebut dari dalam kereta










Stasiun demi stasiun telah kami lewati. Akhirnya semakin banyak stasiun yang kami lewati. Semakin banyak juga kesempatan kami untuk bisa duduk. Kaki kami terasa sangat pegal karena terlalu lama berdiri, badan kami terasa remuk karena mengatur keseimbangan, dan tenggorokan kami terasa kering. Muka lelah kami pun kembali kami pasang. Keringat yang mengucur, tenggorokan yang kering, dan udara yang panas kini yang kami rasakan. Dan akhirnya kami bisa duduk, walaupun tidak semua yang duduk. Tapi kami bersyukur karena keadaan sudah membaik. Berikut muka lelah kami yang berhasil di ambil oleh rekan kami yaitu Nursyiham.
 

                                                                                               




Akhirnya kami tiba di Stasiun Jakarta Kota. Ketika akan turun kereta, kami berdiri di depan pintu kereta. Setelah pintu terbuka, kami diserbu oleh penumpang kereta yang hendak naik. Perasaan lega karena sudah sampai tujuan pun muncul, kami mengantri untuk keluar dari stasiun. Sebelum kami bergegas museum Fatahillah di Kota Tua, kami berkunjung ke salah satu mini market untuk membeli minuman segar demi melegakan dahaga kami yang kering akibat kehausan di kereta tadi.

Setelah semua merasa lebih baik, kami segera bergegas ke Fathahilah. Kami berjalan kaki menuju museum Fatahillah, Kota Tua. Sesampainya di Kota Tua, kami berpisah dengan kelompok lain. Tiba di depan pintu tiket Museum Fatahillah untuk membeli tiket sebesar Rp5.000, karena kami memakai kartu ilab, harga tiket kami menjadi Rp3.500. Setelah membeli tiket, kami segera masuk ke dalam museum Fatahillah. Tiba di museum, kami diharapkan untuk melepaskan alas kaki yang kami pakai dan diberi sandal untuk berjalan-jalan menyusuri museum Fatahillah. Sandalnya berwarna orange. Setelah semua sudah melepas alas kaki dan memakai sandal yang diberi oleh petugas penjaga museum, kami mulai menyusuri museum.                              
         
                                                                                                                                                  3



Museum Fatahillah

Museum Fatahillah yang juga dikenal sebagai Museum Sejarah Jakarta atau Museum Batavia adalah sebuah museum yang terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 1, Jakarta Barat dengan luas lebih dari 1.300 meter persegi.
Gedung ini dahulu adalah sebuah Balai Kota Batavia (bahasa Belanda: Stadhuis van Batavia) yang dibangun pada tahun 1707-1710 atas perintah Gubernur Jendral Johan van Hoorn. Bangunan itu menyerupai Istana Dam di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara.
Pada tanggal 30 Maret 1974, gedung ini kemudian diresmikan sebagai Museum Fatahillah. Arsitektur bangunannya bergaya abad ke-17 bergaya neoklasik dengan tiga lantai dengan cat kuning tanah, kusen pintu dan jendela dari kayu jati berwarna hijau tua. Bagian atap utama memiliki penunjuk arah mata angin.
Museum ini memiliki luas lebih dari 1.300 meter persegi. Pekarangan dengan susunan konblok, dan sebuah kolam dihiasi beberapa pohon tua.





4


Sejarah Gedung

Gedung Museum Sejarah Jakarta mulai dibangun pada tahun 1620 oleh Gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen sebagai gedung balai kota kedua pada tahun 1626 (balai kota pertama dibangun pada tahun 1620 di dekat Kalibesar Timur). Menurut catatan sejarah, gedung ini hanya bertingkat satu dan pembangunan tingkat kedua dilakukan kemudian. Tahun 1648 kondisi gedung sangat buruk. Tanah Jakarta yang sangat labil dan beratnya gedung menyebabkan bangunan ini turun dari permukaan tanah. Solusi mudah yang dilakukan oleh pemerintah Belanda adalah tidak mengubah pondasi yang sudah ada, tetapi menaikkan lantai sekitar 2 kaki (56 cm). Menurut suatu laporan 5 buah sel yang berada di bawah gedung dibangun pada tahun 1649. Tahun 1665 gedung utama diperlebar dengan menambah masing-masing satu ruangan di bagian Barat dan Timur. Setelah itu beberapa perbaikan dan perubahan di gedung stadhuis dan penjara-penjaranya terus dilakukan hingga menjadi bentuk yang kita lihat sekarang ini.


 

5

Selain digunakan sebagai stadhuis, gedung ini juga digunakan sebagai ‘’Raad van Justitie” (dewan pengadilan). Pada tahun 1925-1942 setelah aktivitas Balai Kota dipindahkan ke Koningsplein Zuid (Sekarang Jl. Medan Merdeka No. 8-9, Jakarta Pusat), gedung ini dimanfaatkan sebagai Kantor Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pada tahun 1942-1945 dipakai untuk kantor pengumpulan logistik Dai Nippon. Tahun 1952 gedung ini menjadi markas Komando Militer Kota (KMK) I, lalu diubah kembali menjadi KODIM 0503 Jakarta Barat. Tahun 1968, gedung ini diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta, lalu diresmikan menjadi Museum Sejarah Jakarta pada tanggal 30 Maret 1974.
 
 


 



 6

Seperti umumnya di Eropa, gedung balaikota dilengkapi dengan lapangan yang dinamakan “stadhuisplein”. Menurut sebuah lukisan uang dibuat oleh pegawai VOC “Johannes Rach” yang berasal dari “Denmark”, di tengah lapangan tersebut terdapat sebuah air mancur yang merupakan satu-satunya sumber air bagi masyarakat setempat. Air itu berasal dari Pancoran Glodok yang dihubungkan dengan pipa menujustadhuiplein. Pada tahun 1972, diadakan penggalian terhadap lapangan tersebut dan ditemukan pondasi air mancur lengkap dengan pipa-pipanya. Maka dengan bukti sejarah itu dapat dibangun kembali sesuai gambar Johannes Rach, lalu terciptalah air mancur di tengah Taman Fatahillah. Pada tahun 1973 Pemda DKI Jakarta memfungsikan kembali taman tersebut dengan memberi nama baru yaitu “Taman Fatahillah” untuk mengenang panglima Fatahillah pendiri kota Jakarta.








7


Sejarah Kota Jakarta

Berdasarkan penggalian arkeologi, terdapat bukti bahwa pemukiman pertama di Jakarta terdapat di tepi sungai Ciliwung. Pemukiman ini di duga berasal dari 2500 SM (Masa Neolothicum). Bukti tertulis pertama yang diketemukan adalah prasasti Tugu yang dikeluarkan oleh Raja Tarumanegara pada abad ke-5. Prasasti merupakan bukti adanya kegiatan keagamaan pada masa itu. Pada masa berikutnya sekitar abad ke-12 daerah ini berada di bawah kekuasaan kerajaan Sunda dengan pelabuhannya yang terkenal pelabuhan Sunda Kelapa.
Pada masa inilah diadakan perjanjian perdagangan antara pihak Portugis dengan Raja Sunda. Pada abad ke-17 perdagangan dengan pihak-pihak asing makin meluas, Pelabuhan Sunda Kelapa berubah menjadi Jayakarta (1527) dan kemudian menjadi Batavia (1619). Tahun 1942 bangsa Jepang merebut kekuasaan dari tangan Belanda dan berkuasa di Indonesia sampai tahun 1945.










Dengan mengikuti perkembangan dinamika masyarakat yang menghendaki perubahan agar tidak tenggelam dalam suasana yang statis dan membosankan, serta ditunjang dengan kebijakan yang tertuang dalam visi dan misi museum, mengenai penyelenggaraan museum yang berorientasi kepada kepentingan pelayanan masyarakat, maka tata pamer tetap Museum Sejarah Jakarta dilakukan berdasarkan kronologis sejarah Jakarta, dan Jakarta sebagi pusat pertemuan budaya dari berbagai kelompok suku bangsa baik dari dalam maupun dari luar Indonesia, Untuk menampilkan cerita berdasarkan kronologis sejarah Jakarta dalam bentuk display, diperlukan koleksi-koleksi yang berkaitan dengan sejarah dan ditunjang

8


secara grafis dengan menggunakan foto-foto, gambar-gambar dan sketsa, peta dan label penjelasan agar mudah dipahami dalam kaitannya dengan faktor sejarah dan latar belakang sejarah Jakarta.






9


Penjara Bawah Tanah

Penjara bawah tanah di abad 18 ini di Kota Jakarta yang dulunya dikenal dengan Batavia kini menjadi tempat sejarah di Museum Fatahillah. Gedung ini dulu adalah sebuah Balai Kota yang dibangun pada tahun 1707-1710 atas perintah Gubernur Jendral Johan van Hoorn. Bangunan itu menyerupai Istana Dam di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara.
Penjara yang lembab dan gelap gulita ini hanya memiliki satu jendela lengkap dengan tralis dan satu pintu masuk. Sehingga membuat pengunjung diharuskan untuk menundukkan kepala agar tidak terbentur dengan langit-langit penjara. Bau tidak sedap pun menyeruak dari dalam sel isolasi tersebut. Di dalam terdapat banyak bola-bola besi yang konon katanya buat dikaitkan ke kaki tahanan agar mereka tidak bisa kabur. Betapa mengerikannya penjara ini.ruang yang tingginya hanya dua setengah meter diisi orang dengan puluhan atau berjubelan. Berikut adalah foto-foto yang berhasil diambil oleh rekan kami yang turun ke dalam penjara bawah tanah, yaitu Arman dan Nurshiyam.





                                                                                                                                                   10


Menurut sejarawan Belanda Hans Bonke, sampai 1763 memungkinkan untuk menahan seorang seumur hidup karena berhutang. Peraturan yang dibuat pemerintah 1740 yang melarang orang Cina berkeliaran menyebabkan jumlah tahanan penjara bertambah 500 orang. Mereka ditempatkan di delapan penjara bawah tanah yang sampai sekarang bisa disaksikan di museum Fatahillah Jakarta Barat.  Dalam balaikota, terdapat satu tempat kamar penyiksaan yang didalamnya terdapat palu dan skrup untuk menyiksa tahanan.  Seorang pahlawan seperti Untung Suropati dan Pangeran Diponegoro pernah ditahan di penjara bawah tanah ini.
Penjara bawah tanah wanita pun tak kalah mengenaskan, bahkan sering disebut sebagai lorong gelap gulita, karena hanya memiliki dua jendela yang hanya dibuka pada siang hari. Menurut keterangan staff museum Fatahillah, ukuran sel hanya 6x9 meter dengan ketinggian satu meter. Masih terngiang suasana dan kondisi di dalam penjara bawah tanah yang lembab, bau yang sangat menyengat, dengan kondisi tua dan kumuh. Tahanan yang ada di sel ini merupakan pemberontak VOC, salah satunya pejuang nusantara asal Aceh, Cut Nyak Dien. Penjara ini diperuntukan bagi para pemberontak yang tengah menunggu hukuman gantung dan pancung. Mereka dieksekusi mati di halaman depan gedung Museum Sejarah.

                                                                                                                                                   11

Suasana di Dalam Museum Fatahillah

            Meskipun Museum Fatahillah tergolong bangunan tua, arsitektur dan kebersihannya tetap terjaga. Gedungnya sangat luas dan tak banyak orang yang berkunjung, membuat kami dapat dengan mudah istirahat dan duduk-duduk di tengah museum jika merasa lelah, akibat perjalanan yang kami tempuh sangatlah jauh. Seluruh barang-barang dalam museum ini tertata dengan rapi dan tampak ter








                                                                                                                                                                                
                                                                                                                                                                                 12


Suasana di Halaman Museum Fatahillah

       Setelah selesai mengelilingi museum, kami pun bergegas untuk keluar dari museum. Di pintu keluar, sudah ada pos tempat pengembalian sandal yang dipinjamkan untuk berkeliling museum. Setelah mengembalikan sandal dan istirahat sejenak, kami pun berjalan menuju halaman depan museum. Cahaya matahari saat itu sangat terik, membuat kami harus menyipit jika melihat ke sekeliling. Tak hanya itu, hawa siang itu pun sangat panas, membuat kami ingin segera pulang. Tak jauh dari pintu museum, kami melihat banyak orang-orang yang berdandan menyerupai pahlawan, nenek sihir, dan lain-lain. Ada juga yang dapat melayang di udara, layaknya sirkus. Kami sangat tertarik pada nenek sihir yang berada tak jauh dari kami. Di tengah teriknya matahari, nenek sihir tersebut tetap bersemangat berakting layaknya nenek sihir dan tiba-tiba ia melambai-lambai ke arah kami tanda mengajak kami untuk dating ke sana. Awalnya Bella dan Deka takut. Mereka menolak ajakan Nurshiyam, Arman dan Nabila untuk ke sana. Namun akhirnya mereka berdua pun mau. Kami berjalan menghampiri nenek sihir tersebut. Kostum dan dandanannya sangat seram, namun orang itu berkata bahwa ia tidak menakutkan dan menenangkan kami agar tidak takut. Di depannya terdapat sebuah toples berukuran sedang untuk tempat menampung uang dan ada pula aksesori untuk berfoto, seperti topi dan mahkota yang terbuat dari rangkaian bunga. Inilah hasil foto kami bersama para tokoh-tokoh unik di Kota Tua.






                                                                                                                                                         13 



Perjalanan Pulang dari Museum Fatahillah

          Setelah puas berkeliling dan mengobservasi Museum Fatahillah, kami pun rehat sejenak sambil makan siang di suatu tempat wisata kuliner di sisi Fatahillah. Kebetulan saat itu Arman dan Deka tidak ikut makan siang bersama kami karena mereka memilih untuk berfoto-foto di sekitar museum. Di sana kami memesan soto ayam. Harga makanan di sana cukup beragam, mulai dari Rp10.000 hingga Rp30.000. Di sana kami berkumpul kembali bersama kelompok Museum Wayang untuk makan bersama dan kemudian pulang bersama. Di tengah-tengah acara makan siang kami, tak disangka ada barongsai berlari melewati kami dengan lincah. Kami pun terkejut dan tertawa. Kami mengira ini adalah pertunjukkan yang disuguhkan oleh Kota Tua, namun ternyata barongsai itu adalah seorang pengamen. Kami menemui banyak macam pengamen dengan keunikannya masing-masing. Ada pula seorang pengamen yang memang memainkan lagu dengan gitar dan harmonikanya sesuai dengan lagu permintaan kami. Wah, rasanya sudah seperti di kafe.

Setelah perut kami terisi penuh, kami melanjutkan perjalanan kami, yaitu pulang ke rumah. Pada sekitar pukul 15.30 kami pun kembali ke stasiun dan memesan tiket pulang. Tak lama setelah mendapatkan tiket, kereta jurusan Bogor pun tiba di stasiun. Kami pun bergegas untuk naik. Kami merasa lega, karena saat itu kereta masih sepi, sehingga kami dapat duduk bersama. Suasana saat itu mulai mendung, dan kami cemas jika nanti setiba di rumah turun hujan. Suhu AC kereta saat itu sangat dingin, membuat kami mengantuk dan tanpa disadari, satu per satu dari kami pun tertidur lelap. Setelah itu kami pulang ke rumah masing-masing.




                                                                                                                                                   14


Lampiran


Lampiran 1. Kelompok

Lampiran 2. Nur Shiyam bersama Deka


Lampiran 3. Suasana Istirahat

                                                                                                                                                   15



Lampiran 4. Tangga turun museum


Lampiran 5. Peralatan masak zaman dahulu


Lampiran 6. Miniatur masjid zaman dahulu


                                                                                                                                                            16


           





Tidak ada komentar:

Posting Komentar